Sumbang Jiwa

Tiada patut aku menerima seksa dari terjerat dengan masa. Kelu lidah aku tanpa sebarang bantah. Menurut tingkah bagaikan boneka. Kaku pada akal hilangnya bijaksana. Malaikat di kiri tanpa peduli tekun dengan tinta penanya. Sedangkan pena di kanan hilang entah ke mana. Membuatkan pemilik pena kanan itu simpati diam tanpa bahasa. Simpati pada jiwa yang seakan mencemuh Ridhwan di pintu syurga dan memberi salam pada Malik di laman neraka.

Malaikat yang khianat mengaku dewa raja melebarkan senyuman sumbang memandang Penciptanya. Sudah dapat memaut jiwa yang mudah tercelaka. Sungguh janji sumpahnya di hadapan Pencipta hampir dapat dikota. Bermegahlah ia menang pada dunia.

Aku jeritkan pada langit alunan suara hati aku yang sumbang ini. Dan aku meludah ke bumi bila langit menurunkan hujan batu bagaikan peluru menembusi jasad terus ke dalam jiwa. Jiwa aku yang kosong menanti untuk dipenuhi dengan sesuatu yang aku pernah ada untuk merasa. Jiwa aku yang sudah layu menanti subur dengan siraman cahaya. Tiada akan jiwa aku dapat semua itu dengan cara paksa. Tanpa kenal apa itu redha. Tanpa mengerti apa itu pasrah.

Makhluk ciptaan seperti aku ini bukanlah perkasa dapat melihat hari muka. Tudingkan saja jari pada si Penguasa dunia yang lagi maha perkasa. Menunggu samada celaka atau bahagia. Tapi lupa apa itu kudrat untuk berusaha.

......Manusia.

2 comments:

Wadai Kipeng said...

komen, kena ada ‘feel’, dan bila dapat ‘feel’, nikmatnya tak dapat di gambarkan dengan kata-kata.

dysnomia erys said...

setepatnya.