Biola

Aku sukakan bunyi biola. Walau aku buta pada tiap tangga nadanya. Walau seumur hidup ini bahu ku tidak pernah diletakkan badan biola, jauh sekali menggesek dan menekan tali-tali rapatnya, tapi aku menikmati suaranya. Satu ciptaan alat muzik yang begitu indah. Sentiasa membuat aku khayal. Setiap gesekan biola yang baik, akan membuai aku. Irama yang dilantun dari gesekan gemersik mampu menggetarkan jiwa. Walau irama asalnya diambil dari lagu yang tidak pernah sekali masuk dalam jiwa. Hebat bukan?

Gesekan merdu biola itu pada aku punya warna bila dimainkan dengan sempurna. Tiap gesekan halus merdu tali-tali biola, terhasil pelbagai warna yang menyaluti setiap perasaan. Boleh jadi warna bahagia yang indah tersebar di dalam gelita. Mungkin juga warna derita yang kelam dan suram menyelinap perlahan di dalam ruang bahagia yang  terang. Terpulang pada irama yang dimainkan. Terpulang juga pada penikmat yang menikmat.

Andainya aku memiliki biola serta punya kemahiran untuk menggeseknya. Kalian pula menjadi penikmat pada tiap gesekan yang aku lantunkan. Kalian juga dapat melihat segala warna yang beralun dari tiap gesekan. Apa yang kalian nikmati cumalah kesuraman. Melihat warna yang tidak lain hanya gelap yang menyesakkan. 

Dan, andaikan sahaja biola itu adalah cinta. Rasanya, biola itu kini hampir putus tali-talinya.

Langit senja

Kalian pernah lihat kaki langit waktu senja?
Saat matahari mulai hilang.
Saat kawanan burung pulang mencari sarang.
Ada warna jingga. Warna merah.
Aku sudah lama tiada melihatnya.
Sudah lama tiada menghayatinya.
Tiada menikmatinya.

Sengaja aku menghindarkan mata dari menatap semua itu.
Melarikan diri dari menikmati pemandangan itu.
Walau aku tahu ia suatu yang indah.
Walau aku tahu ia pernah buat aku terpesona.
Pernah buat aku rasa bahagia.

Langit senja itu masih membuat aku luka.